Sabtu, 21 Juni 2014

ADAPTASI BIOTA LAUT



TUGAS TERSTRUKTUR BIOLOGI LAUT
ADAPTASI BIOTA
OLEH:
NAMA          : ELLYDA HASAN
NIM              : 125080500111028
PRODI          : BUDIDAYA PERAIRAN
KELAS         : B01


Description: D:\foto\ub\imagesf.jpg
 









FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

Keragaman faktor lingkungan akan berpengaruh terhadap kondisi kehidupan biota di dalamnya. Pengaruh tersebut salah satunya dapat dilakukan dengan beradaptasi. Adaptasi ini diperlukan untuk mempertahankan hidup pada kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan. Selain itu, proses ruaya ikan juga mempengaruhi kehidupan ikan, dimana ikan harus beradaptasi terhadap terhadap kondisi lingkungan tempat ikan melakkan tujuan ruaya. Dalam melakukan aktifitas ruaya, pastinya terdapat hambatan-hambatan dimana ikan harus melakukan adaptasi untuk mempertahankan kehidupannya.   Adapun adaptasi biota dapat dilakukan dengan berbagai cara yaitu:
1.      Adaptasi Fisiologi
Adaptasi fisiologi adalah penyesuaian yang dipengaruhi oleh lingkungan sekitar yang menyebabkan adanya penyesuaian pada organ atau alat-alat tubuh untuk mempertahankan hidup dengan baik. Adaptasi fisiologi ini penekanannya menyangkut fungsi alat-alat tubuh yang umumnya terletak di bagian dalam tubuh mengalami perubahan sehingga tetap bertahan hidup.
·         Adaptasi Ikan Terhadap salinitas
Menurut Fujaya (2004), osmoregulasi adalah upaya hewan air untuk mengontrol keseimbangan air dan ion antara tubuh dan lingkungannya, atau suatu proses pengaturan tekanan osmose. Hal ini penting dilakukan, terutama oleh organisme perairan karena:
1)        Harus terjadi keseimbangan antara substansi tubuh dan lingkungan
2)        Membran sel yang permeabel merupakan tempat lewatnya beberapa substansi yang bergrak cepat
3)        Adanya perbedaan tekanan osmose antara cairan tubuh dan lingkungan.
Menurut Fahmi (2010), Ikan air tawar mengalami kondisi hiperosmotik terhadap lingkungan. Untuk mencapai kondisi isoosmotik, ikan tersebut akan mengeluarkan ion-ion badan melalui urin dan akan minum banyak untuk mengatur volume cairan tubuh. Sebaliknya ikan laut mengalami kondisi hipoosmotik terhadap lingkungan. Organ tubuh yang berperan penting dalam proses osmoregulasi insang, ginjal dan kulit.
Jadi, untuk megatur keseimbagan cairan dalam tubuh, ikan air tawar melakukan adaptasi denga cara mengeluarkan sedikit ion-ion melalui urin dan memperbanyak minum air. Sedangkan untuk ikan air laut, melakukan adaptasi dengan cara mengeluarkan urin dalam jumlah yang banyak dan sedikit minum air.
·           Adaptasi Terhadap Metabolisme Ikan
Setiap ikan yang melakukan migrasi akan menyimpan energi dan membuat mekanisme metabolisme yang spesifik supaya migrasi yang dilakukan berjalan sukses. Hewan migran menyimpan banyak energi saat melakukan migrasi ke tempat sumber makanan. Selanjutnya energi tersebut akan dikeluarkan dalam jumlah yang banyak untuk melakukan migrasi ke habitat lain seperti tempat pemijahan atau ekspansi ke wilayah yang baru. Energi yang dikeluarkan oleh ikan saat bermigrasi digunakan untuk kebutuhan dasar (basal metabolic) seperti untuk berenang, osmoregulasi, respirasi, excretory, dan hormonal regulation. Pengeluaran energi oleh migran sangat efektif karena berasosiasi dengan perubahan morfologi, tingkah laku dan pengaturan hormon. Hormon-hormon yang berperan aktif dalam mengatur mekanisme metabolik adalah growth hormon, thyroid hormon, insulin dan prolactin (Fahmi, 2010).
·           Adaptasi Terhadap Kadar Oksigen
Di dataran rendah kadar oksigen di udara cukup tinggi sehingga absorbsi oksigen oleh pembuluh kapiler darah paru-paru dapat berlangsung secara efektif dengan jumlah eritrositnya yang normal. Oleh karena yang bertugas mengangkut oksigen di dalam tubuh adalah eritrosit, tubuh akan beradaptasi secara fisiologis dengan meningkatkan jumlah eritrosit (sel darah merah). Dengan demikian, pengikatan oksigen di dalam alat pernapasan dapat berjalan efektif (Farhan, 2013).
2.      Adaptasi Morfologi
Adaptasi morfologi adalah penyesuaian pada organ tubuh yang disesuaikan dengan kebutuhan organisme hidup. Pada biota laut dalam, adaptasi morfologi dapat dilihat dari bentuk tubuh biota laut dalam yang kecil dan pada umumnya bertubuh transparan karena tubuhnya tidak mengandung pigmen. Secara morfologis, senjata pembunuh seperti rahang, tengkorak dan dimensi mulut mengalami perubahan pada organisme laut dalam. Ciri umum mereka adalah mulut yang melebar, rahang yang kuat dan gigi-gigi tajam. Mereka harus seoptimal mungkin mencari mangsa yang jarang di laut dalam. Praktek kanibalisme juga sering terjadi di beberapa spesies.
Selain itu bentuk tubuh ikan juga merupakan salah satu adaptasi ikan, Lerman (1986) dalam Wahyuningsih dan Ternala (2006), membedakan bentuk tubuh ikan menjadi 4 yaitu :
a.         Bentuk fusiform atau lurus seperti pada ikan tuna, hiu. Bentuk tubuh seperti ini memungkinkan ikan untuk bergerak cepat yang terutama dalam menangkap mangsa.
b.        Bentuk pipih tegak seperti pada ikan Pontus triacanthus, memungkinkan untuk mudah bergerak diantara tumbuh-tumbuhan air dan areal yang sempit. Tubuh yang pipih memudahkan ikan tersebut menghindari tentakel beracun dari predator dan masuk kedalam celah-celah karang atau di bawah vegetasi air.
c.       Bentuk tubuh ikan lainnya adalah bentuk pipih datardan bentuk tipis memanjang seperti belut. Belut dan beberapa ikan bentuk ini mensekresi semacam lendir yang dapat membantu gerakan di substrat lumpur dan mengurangi terjadinya perlukaan pada tubuhnya.
3.      Adaptasi Tingkah Laku
Adaptasi tingkah laku merupakan proses penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungannya dengan cara memperlihatkan tingkah laku. Biasanya pada pada ikan paus sesekali menyemburkan diri ke permukaan untuk mendapatkan oksigen setiap 30 menit sekali dan pada biota di zona intertidal biasanya pada saat air surut biota-biota seperti kepiting, cacing-cacingan menenggelamkan diri ke dalam pasir dan pada saat pasang tinggi biota tersebut aktif untuk mencari makan, selain itu pada kerang-kerangan misalnya pada jenis kerang hijau (Perna viridis) untuk menghindari kuatnya arus dengan melekatkan tubuhnya sangat erat ke batu-batuan menggunakan bysus. Dan pada jenis kerang lain seperti kerang darah, pada kondisi kualitas air yang buruk maka kerang tersebut menutup tubuhnya rapat-rapat dan akan membuka kembali sampai kondisi perairan tersebut normal.
Selain itu, beberapa organisme yang mengalami siklus reproduksi, akan mempunyai perilaku yang unik untuk menarik pasangannya di tengah kegelapan. Mereka akan memendarkan cahaya yang tampak kontras dengan kondisi sekitar yang serba gelap. Dalam ekosistem dasar laut sebisa mungkin mereka dapat memperoleh sumber energi atau makanan agar dapat bertahan hidup, oleh karena itu beberapa ikan yang hidup di ekosistem ini dilengkapi keahlian khusus agar dapat memperbesar kemungkinan mendapatkan mangsa.
4.      Adaptasi Reproduksi
Menurut Fahmi (2001), Ikan-ikan yang hidup di laut dalam, mereka mempunyai cara-cara khusus agar dapat mempertahankan hidupnya, termasuk dalam hal reproduksi. Langkanya sumber makanan yang ada di laut dalam mengakibatkan sangat rendahnya kepadatan organisme, Juga menimbulkan masalah sulitnya memperoleh pasangan dari jenis kelamin yang berbeda untuk keperluan reproduksi dalam habitat yang sangat luas dan gelap gulita tersebut. Salah satu adaptasi yang dilakukan tampak pada ikan- ikan pemancing (Angler fishes) dari bangsa Ceratoidea adalah ikan-ikan jantan tersebut menemukan pasangannya melalui indra olfaktorik. Ketika ikan jantan tersebut menemukan betinanya, ia langsung menempelkan mulutnya di tubuh ikan betina dengan gigi-giginya yang tajam dan tidak pernah melepaskannya lagi. Kulit ikan jantan lambat-laun bersatu dengan tubuh ikan betina. Sistem sirkulasinya juga ikut bersatu, sehingga tubuh ikan jantan menjadi tergantung pada ikan betina. Ikan jantan akan menghabiskan sisa hidupnya sebagai parasit dengan menempel pada tubuh ikan pasangannya, ia mendapatkan makanan dengan menyerap dari tubuh betina tersebut. Ketika ikan betina tersebut memijah, maka telur-telurnya akan segera dibuahi oleh ikan jantan.
Selain itu terjadi perubahan badan pada ikan sidat saat melakukan persiapan pemijahan dan bermigrasi. Menurut pankhrust (1982) dalam Fahmi (2010), menyatakan bahwa membesarnya mata saat memijah sampai empat kali dari sebelumya. Selain mata, perubahan badan lainnya ketika akan memijah antara lain warna sirip pectoral yang makin gelap, perubahan komposisi sel pada retina, perubahan warna badan menjadi silver, sisik membesar, dermis menebal, densitas sel mukus meningkat terutama pada betina, bentuk kepala agak pipih, adanya peningkatan panjang dan diameter kapiler pada gelembung renang, peningkatan aktivitas Na+/K+ -ATP ase pada insang, usus mengalami peningkatan bobot namun jumlah lipatannya menurun, serta otot tunus meningkat.
5.      Adaptasi Food & Feeding
Bentuk, ukuran dan letak mulut ikan dapat menggambarkan habitat ikan tersebut. Ikan-ikan yang berada di bagian dasar mempunyai bentuk mulut yang subterminal sedangkan ikan-ikan pelagik dan ikan pada umumnya mempunyai bentuk mulut yang terminal. Ikan pemakan plankton mempunyai mulut yang kecil dan umumnya tidak dapat ditonjolkan ke luar. Pada rongga mulut bagian dalam biasanya dilengkapi dengan jari-jari tapi insang yang panjang dan lemas untuk menyaring plankton. Umumnya mulut ikan pemakan plankton tidak mempunyai gigi. Ukuran mulut ikan berhubungan langsung dengan ukuran makanannya. Ikan-ikan yang memakan invertebrata kecil mempunyai mulut yang dilengkapi dengan moncong atau bibir yang panjang. Ikan dengan mangsa berukuran besar mempunyai lingkaran mulut yang fleksibel (Wahyuningsih dan Ternala, 2006).
Selain itu, apabila dalam lingkungan tempat hidup ikan tersebut tidak terdapat banyak makanan maka ikan-ikan tersebut beradaptasi dengan melakukan migrasi ke tempat yang terdapat banyak makanan, misalnya pada larva ikan, karena kuning telur sudah habis dan didaerah tersebut tidak terdapat makanan maka larva ikan tersebut akan bermigrasi ke pinggiran sungai yang terdapat banyak makanan yang sesuai dengan bukaan mulutnya.
Kebanyakan cara ikan mencari makanan dengan menggunakan mata. Pembauan dan persentuhan digunakan juga untuk mencari makanan terutama oleh ikan pemakan dasar dalam perairan yang kekurangan cahaya atau dalam perairan keruh. Ikan yang menggunakan mata dalam mencari makanan akan mengukur apakah makanan itu cocok atau tidak untuk ukuran mulutnya. Tetapi ikan yang menggunakan pembauan dan persentuhan tidak melakukan pengukuran, melainkan kalau makanan sudah masuk mulut akan diterima atau                 ditolak (Effendie, 2002).
6.      Adaptasi Pertahanan
Dalam system pertahanan diri biasanya pada pengeluaran tinta pada Cumi-cumi untuk penyelamatan diri. Serta beberapa ikan di dasar laut yang dapat berubah bentuk mengikuti kondisi lingkungannya seperti bersembunyi atau menyerupai pasir di dasar laut serta menyerupai tumbuhan–tumbuhan dasar laut untuk menghindari dari para predator yang ingin memangsanya contohnya ikan pari yang ekornya sangat beracun, lalu juga ada lion fish yang dapat menyengat jika disentuh atau mengalami gangguan dari predator lain hewan ini sangat berbahaya bagi para penyelam (Darmadi, 2010).
Pada ikan buntal, untuk mempertahankan diri dari predator ikan tersebut mengeluarkan duri-duri pada tuuhnya dengan membesarkan tubuhnya sehingga predator akan sulit untuk memangsa ikan buntal tersebut. Selain itu menurut Subekti, et al. (2010), untuk menghindari dari pengganggu atau pemangsa yaitu eviserasi. Eviserasi ialah pelepasan salah satu atau kedua pohon pernafasan, usus atau gona, atau semuanya melalui sobekan cloaca. Pemangsa akan memakan bagian yang terlepas, sementara timun laut menyelamatkan diri kemudian regenerasi untuk mengganti bagian yang hilang.














REFERENSI

Darmadi. 2010. Identifikasi Adaptasi Organisme Nekton Perairan Laut. http://dhamadharma.wordpress.com/2010/04/22/identifikasi-adaptasi-organisme-nekton-perairan-laut/. Diakses pada 29 April 2014 pukul 09.38 WIB

Effendie, H. M. Ichsan. 2002. Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama: Yogyakarta.
Fahmi, Melta Rini. 2010. Phenotypic Platicity Kunci Sukses Adaptasi Ikan Migrasi: Studi Kasus Ikan Sidat (Anguilla sp.). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur. Balai Riset Budidaya Ikan Hias.
Fahmi. 2001. Reproduksi Ikan Laut Tropis. Oseana. XXVI (2) :17-24.

Farhan, Muhammad. 2103. Adaptasi Fisiologi, Adaptasi Morfologi dan Adaptasi Tingkah Laku. http://www.tuliskan.com/2013/06/adaptasi-fisiologi-adaptasi-morfologi-dan-adaptasi-tingkah-laku.html. Diakses pada 28 April 2014 pukul 21.30 WIB

Fujaya, Yushinta. 2004. Fisiologi Ikan. Penerbit Rineka Cipta: Jakarta.
Subekti, Sri., Kismiyati., Rosmanida., Sapto Andriyono dan Kustiawan Tri Prasetyo. 2010. Avertebrata Air. Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Airlangga: Surabaya.
Wahyuningsih, Hesti Dan Ternala Alexander Barus. 2006. Buku Ajar Iktiologi. Departemen Biologi Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumater Utara.

Willend, Exa. 2012. Adaptasi Fisiologi [Pengertian Dan Contohnya]. http://hidupsaturindu.blogspot.com/2012/10/adaptasi-fisiologi-pengertian-dan.html. Diakses pada 28 April 2014 pukul 21.09 WIB.



DAERAH LITORAL

      Daerah litoral adalah daerah yang langsung berbatasan dengan darat. Radiasi matahari, variasi temperatur dan salinitas mempunyai pengaruh yang lebih berarti untuk daerah ini dibandingkan dengan daerah laut lainnya. Biota yang hidup di daerah ini antara lain: ganggang yang hidup sebagai bentos, teripang, binatang laut, udang, kepiting, cacing laut.
      Wilayah pantai dapat dibagi menjadi mintakat yang selalu terendam air dan mintakat pasut, yakni mintakat yang selalu mengalami pengeringan dan perendaman akibat pasang surut air laut. Dan yang banyak diketahui sifat ekologi dan sumberdaya hayatinya merupakan mintakat pasut. Sifat-sifat mintakat pasut dipengaruhi oleh beberapa faktor. Diantaranya selain pasang surut air laut juga dipengaruhi oleh suhu, yang mana suhu di wilayah ini lebih besar daripada suhu di bagian laut lainnya. Faktor lain yaitu cahaya. Sama seperti suhu, cahaya di mintakat pasut lebih besar daripada dibagian laut lainnya kecuali air permukaan laut bebas, dan hal ini memiliki pengaruh langsung terhadap sebaran tumbuhan-tumbuhan laut, karena tumbuhan-tumbuhan ini memerlukan cahaya matahari untuk fotosintesis. Beberapa ekosistem yang utama dan banyak diperbincangkan dan diteliti karena peranannya sebagai penopang pembangunan kelautan, baik secara langsung maupun tidak langsung yaitu terumbu karang, mangrove, dan lamun.
      Pembagian menurut tingkat perendaman dan pengeringan oleh pasang surut:
1.    MHWS (Mean High Water Springs)
Tinggi rata-rata dari dua air tinggi berturut-turut selama periode pasang purnama, yaitu jika tunggang (range) pasut itu tertinggi atau tinggi air yang mencapai garis rata-rata pasang tertinggi. Biasanya terjadi dalam jangka waktu 24 jam dalam kurun periode 14 hari.  Air yang tinggi dipengaruhi oleh perubahan gaya, arah angin dan perubahan tekanan barometrik. Sehingga menyebabkan air mencapai pasang tertinggi, dan membanjiri daerah lepas pantai.

2.    MHWN (Mean High Water Neap)
Tinggi rata-rata dari dua air tinggi berturut-turut selama periode pasut perbani (neap tides), yaitu jika tunggang (range) pasut paling kecil. Dan biasanya  terjadi pada pasang perbani atau bulan baru. Ketinggian rata-rata neaps air terjadi sepanjang tahun selama periode 24 jam (kira-kira sekali dua minggu).
3.    MTL (Mean Tide Level)
Rata-rata antara air tinggi dan air rendah pada suatu periode waktu. Pada pasang surut ini air tidak mengalami perendaman dan pengeringan karena MTL (Mean Tide Level) letaknya berada diantara pasang tinggi dan pasang rendah, yakni air dalam keadaan normal.
4.    HLWN (Higher Low Water Neap)
Tinggi rata-rata air tertinggi dari dua air rendah harian pada suatu periode waktu yang panjang. Hal ini tidak akan terdapat pada pasut diurnal dan terjadi selama masa pasang perbani.
5.    MLWN (Mean Low Water Neap)
Tinggi rata-rata yang dihitung dari dua air berturut-turut selama periode pasut perbani, yang biasanya juga terjadi pada bulan baru.
6.    MLWS (Mean Low Water Springs)
Tinggi rata-rata yang diperoleh dari dua air rendah berturut-turut selama periode pasang purnama. Air hanya menggenangi pantai dalam skala kecil.
     
Sumber:
http://awandaernawati.blogspot.com/2011/10/pembagian-daerah-ekosistem-laut_07.html


Jumat, 20 Juni 2014

EKOLOGI DAN HABITAT RUMPUT LAUT, Gracillaria verrucosa



MAKALAH
EKOLOGI DAN HABITAT RUMPUT LAUT,
Gracillaria verrucosa



Description: D:\foto\ub\imagesf.jpg
 









Oleh:
Arfin Reskiningrum       125080500111022
Ellyda Hasan                125080500111028

KELAS: B01


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

1.   PENDAHULUAN
1.1     Latar Belakang
      Rumput laut (seaweed) yang dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal sebagai Algae sangat populer dalam dunia perdagangan akhir-akhir ini. Rumput laut dikenal pertama kali oleh bangsa Cina kira-kira tahun 2700 SM. Pada saat itu rumput laut banyak digunakan untuk sayuran dan obat-obatan. Pada tahun 65 SM, bangsa Romawi memanfaatkannya sebagai bahan baku kosmetik. Namun dengan perkembangan waktu, pengetahuan tentang rumput laut pun semakin berkembang (Alamsjah, et al., 2010)
       Rumput laut merupakan komoditas perikanan yang menjadi komoditas unggulan nasional. Salah satu jenis rumput laut penghasil agar yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah Gracillaria verrucosa. Budidaya yang dilakukan selama ini menggunakan bibit yang berulang sehingga menurunkan kualitas rumput laut dan menyebabkan rentan terhadap penyakit (Fadilah, et al., 2010).
       Gracilaria verrucosa merupakan salah satu dari 555 jenis rumput laut yang ditemukan di perairan Indonesia. Merupakan alga merah yang thalusnya mengandung gel sehingga mempunyai kemampuan mengikat air yang cukup tinggi. Besarnya air yang dapat diserap dan disimpan tergantung dari luas bidang penyerapan. Selain hal tersebut, Gracilaria verrucosa seperti rumput laut umumnya mengandung makro mineral, mikro mineral, protein, karbohidrat dan vitamin A dan C. Karena hal tersebut, maka Gracilaria verrucosa mempunyai potensi yang tinggi untuk diamanfaatkan dalam bidang pertanian khususnya pada lahan dengan partikel tanah yang besar seperti lahan pasir yaitu sebagai bahan penyerap dan penyimpan air sekaligus sebagai sumbur pupuk organik (Haryanti, et al., 2008).
       Gracilaria verrucosa merupakan salah satu jenis rumput laut yang dapat digunakan untuk untuk industri seperti dalam pembuatan agar-agar dan juga obat-obatan, selain itu juga dapat digunakan untuk makanan dan minuman karena rumput laut Gracilaria verrucosa mempunyai kandungan gizi yang lebih  tinggi daripada sayuran dan buah-buahan. Selain itu keberadaan Gracilaria verrucosa juga menguntungkan organisme yang ada di perairan karena      Gracilaria verrucosa mampu mengubah energi sinar matahari menjadi bahan organik melalui proses fotosintesis yang dapat dimanfaatkan organime untuk melakukan proses respirasi maupun metabolisme.

1.2     Maksud dan Tujuan
a)     Untuk mengetahui ekologi dari rumput laut Gracilaria verrucosa
b)     Untuk mengetahui habitat rumput laut Gracilaria verrucosa
c)     Untuk mengetahui manfaat rumput laut Gracilaria verrucosa

1.3     Manfaat
       Manfaat dari makalah ekologi dan habitat rumput laut  Gracilaria verrucosa yaitu untuk mengetahui dan memberikan informasi kepada masyarakat dan lembaga terkait mengenai ekologi dan habitat rumput laut serta manfaat rumput laut Gracilaria verrucosa baik untuk masyarakat maupun industri.









2.     PEMBAHASAN

2.1        Klasikasi dan Morfologi
       Menurut Dawes (1981) dalam Sinulingga dan Sri, klasifikasi dari Gracillaria verrucosa adalah sebagai berikut:
Divisio            : Rhodophyia
Classis            : Rodhophycease
Ordo              : Gigartinales
Famila            : Gracilariacease
Genus             : Gracillaria  
Species           : Gracilaria verrucosa
       Gracilaria hidup dengan jalan melekat-kan diri pada substrat padat, seperti kayu, batu, karang mati dan sebagainya. Untuk melekatkan dirinya, Gracilaria memiliki suatu alat cengkeram berbentuk cakram yang dikenal dengan sebutan 'hold fast'. Jika dilihat secara sepintas, tumbuhan ini berbentuk rumpun, dengan tipe percabangan tidak teratur, 'dichotomous', 'alternate', 'pinnate', ataupun bentuk-bentuk percabang-an yang lain (Sjafrie, 1990).


 








Gambar 1.1 Morfologi Gracillaria verrucosa
(Milchacova, 1998 dalam Amalia, 2013)
       Secara morfologi rumput laut tidak dapat dibedakan antara akar, batang dan daun. Berupa thalus dengan bentuk bermacam-macam. Thalus ini ada yang uniseluler dan multiseluler. Sifat substansi thalus beranekaragam, ada yang lunak seperti gelatin (gelatinous), kertas diliputi atau mengandung zat kapur (calcareous), lunak seperti tulang rawan (cartilagenous), berserabut (spongious) dan sebagainya (Aslan, 1995 dalam Haryanti, et al., 2008).

2.2        Habitat
       Gracilaria umumnya hidup sebagai fitobentos, melekat dengan bantuan cakram pelekat ('hold fast') pada substrat padat. Terdiri dari kurang lebih 100 spesies yang menyebar luas dari perairan tropis sampai subtropis. Hal ini menyebabkan beberapa penulis menyebutnya sebagai spesies yang kosmopolit. Gracilaria hidup di daerah litoral dan sub litoral, sampai kedalaman tertentu, yang masih dapat dicapai oleh penetrasi cahaya matahari. Beberapa jenis hidup di perairan keruh, dekat muara sungai (Sjafrie, 1990).
        Menurut Hendrajat, et al (2010),Gracillaria sp. termasuk rumprut laut yang bersifat euryhaline,sifat tersebut dapat terlihat dari kemempuan hidupnya pada perairan bersalnitas 15-30 ppt,dengan begitu Gracillaria sp. dapat dibudidayakan di daerah pantai atau tambak.
       Rumput laut telah banyak dibudidayakan oleh petani rumput laut di perairan lautdi kawasan pesisir. Salah satu dari jenis rumput laut yang dapat dibudidayakan dan dimanfaatkan sebagai bahan baku industri adalah  Gracilaria sp..Jenis rumput laut ini sangat mudah untuk dibudidayakan dengan kondisi lingkungan yang berbeda dengan kondisiperairan di laut, seperti tambak.  Kondisi perairan habitat asli rumput laut memiliki kualitas air yang  cukup baik dalam mendukung kehidupannya. Sementara kondisi tambak memiliki kualitas air yang  fluktuatif dan beragam tingkat kesuburannya. Akan tetapi, Gracilaria sp. dapat mentolerir kondisi lingkungan yang tidak sesuai dengan kondisi lingkungan aslinya. Rumput laut dari genus ini dapat mentolerir salinitas terendah 15 g/L dan tertinggi 50 g/L (Aslan, 1991dalam Rukmi et al., 2012).
       Karena memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air menjadikan rumput laut sangat potensial digunakan pada bidang pertanian, terutama pada lahan dengan ukuran partikel tanah yang cukup besar seperti pada tanah pasair. Tanah yang terdiri atas partikel besar kurang dapat menahan air. Air yang ada dalam tanah akan berinfiltrasi, bergerak ke bawah melalui rongga tanah, akibatnya tanah kekurangan air. Kondisi iniapabila terus menerus dapat mematikan tanaman (Dwidjoseputro, 1978 dalam Haryanti et al., 2008).  
       Atmadja et al. (1996) dalam Alamsjah et al. (2010), menyatakan bahwa perkembangan budidaya rumput laut Gracilaria sp. di tambak wilayah Indonesia terdapat di daerah Sulawesi Selatan, Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat. Jenis yang dibudidayakan adalah Gracilaria gigas, G. verrucosa dan G. lichenoides . Salah satu jenis alga merah yang banyak ditemukan di perairan Indonesia adalah  G. verrucosa  dan merupakan penghasil agar.

2.3        Ekologi
        Gracilaria ini menjadi pemegang peranan kunci dalam rantai makanan, menentukan kualitas perairan tambak (Neori, et al., 1996) dan menentukan struktur komunitas dalam ekosistem (sistem hubungan timbal balik yang komplek antara makhluk hidup dengan lingkungan biotik dan abiotik yang bersama-sama membentuk suatu sistem ekologi) perairan, selain itu rumput laut Gracilaria sendiri merupakan sumber daya laut yang disamping bermanfaat sebagai bahan baku makanan sehat juga berperan penting dalam mengendalikan kualitas perairan tambak yakni sebagai faktor penentu dinamika oksigen perairan tambak. Kemampuan rumput laut dalam memperbaiki kualitas lingkungan perairan tambak telah terbukti dapat memberikan banyak manfaat terhadap perairan tambak, diantaranya sebagai faktor pemacu (forcing funciton) untuk menjaga kualitas air tambak agar tetap kondusif dalam pertumbuhan (Kartono et al., 2008).
       Rumput laut tumbuh hampir di seluruh bagian hidrosfir sampai batas kedalaman 200 meter. Di kedalaman ini syarat hidup untuk tanaman air masih memungkinkan. Jenis rumput laut ada yang hidup di perairan tropis, subtropis, dan di perairan dingin. Di samping itu, ada beberapa jenis yang hidup kosmopolit seperti Ulva lactuca, Hypnea musciformis, Colpomenia sinuosa, dan Gracilaria verrucosa. Rumput laut hidup dengan cara menyerap zat makanan dari perairan dan melakukan fotosintesis. Jadi pertumbuhannya membutuhkan faktor-faktor fisika dan kimia perairan seperti  gerakan air, temperatur, kadar garam, nitrat, dan fosfat serta pencahayaan sinar matahari (Effendie, 1997 dalam Amalia, 2013).
       Hoyle (1973) dalam Atmadja et al. (1996) dalam Alamsjah et al. (2010), menyatakan bahwa rumput laut  Gracilaria  sp.merupakan tumbuhan yang mempunyai toleransi terhadap perubahan kondisi lingkungan serta dapat tumbuh pada perairan yang tenang.

2.4     Faktor yang Mengaruh Pertumbuhan Rumput Laut Gracillaria verrucosa
       Pertumbuhan rumpt laut Gracilaria verrucosa dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, diantaranya:
Cahaya
Kemampuan adaptasi Gracilaria ter-hadap cahaya sangat baik. Cahaya yang masuk ke dalam perairan baik dalam jumlah banyak atau sedikit dapat dimanfaatkan untuk pertumbuhannya. Menyatakan bahwa G. verrucosa dan G. foliifera memiliki toleransi yang tinggi terhadap cahaya yang berlebihan, keduanya dapat tumbuh pesat pada kedalaman 5 cm. Sedangkan Kim mendapatkan G. verrucosa tumbuh di perairan yang keruh. Selanjutnya Kling menyatakan bahwa sinar kuning (580 - 630 nm) memberikan pengaruh positif terhadap pertumbuhan G. verrucosa (Hoyle, 1975 dalam Sjafrie, 1990).
Sesuai dengan pendapat Patandjai (2007) dan Aslan (1998) dalam Rukmi, et al. (2012), bahwa peningkatan proses fotosintetis akan merangsang rumput laut untuk memanfaatkan atau menyerap unsur hara yang cukup seperti nitrat dan  phosfat. Senyawa ini diperlukan sebagai bahan dasar penyusunan protein dan pembentukan klorofil dalam proses fotosintesis serta akan menunjang pertumbuhannya.

Suhu
Selain beradaptasi terhadap cahaya,  Gracilaria verrucosa  juga memiliki kemampuan beradaptasi yang baik terhadap suhu. Kemampuan adaptasi  Gracilaria verrucosa  sangatlah bervariasi tergantung pada lingkungan dimana tumbuhan tersebut hidup. Suhu mempengaruhi daya larut gas-gas yang diperlukan untuk fotosintesis seperti C   dan gas-gas ini mudah terlarut pada suhu rendah dari pada suhu tinggi akibatnya kecepatan fotosintesis ditingkatkan oleh suhu rendah. Panas yang diterima permukaan laut dari sinar matahari menyebabkan suhu di permukaan perairan bervariasi berdasarkan waktu. Perubahan suhu ini dapat  terjadi secara harian, musiman, tahunan atau dalam jangka waktu panjang (Romimohtarto, 2001 dalam Mustofa, 2013).
Menurut Anngadiredja et al. (2006) dalam Rukmi et al. (2012), Kisaran suhu air yang optimal bagi pertumbuhan rumput laut berkisar 20 300 C. Menurut Haslam (1995), suhu yang tinggi dapat mempengaruhi aktivitas proses biokimia dan pertumbuhan thallus. Hal ini disebabkan peningkatan suhu dapat menyebabkan penurunan kelarutan gas O2, CO2, N2 dan CH4 dalam air.
Substrat
Menurut Rukmi et al. (2012), rumput laut telah banyak dibudidayakan oleh petani rumput laut di perairan laut di kawasan pesisir. Salah satu dari jenis rumput laut yang dapat dibudidayakan dan dimanfaatkan sebagai bahan baku industri adalah  Gracilaria sp..Jenis rumput laut ini sangat mudah untuk dibudidayakan dengan kondisi lingkungan yang berbeda dengan kondisi perairan di laut, seperti tambak. 
Tanah pasir merupakan salah satu substrat bagi pertumbuhan tanaman.Tanaman memerlukan kondisi tanahtertentu untuk menunjang pertumbuhannya yang optimum. Kondisi tanah tersebut meliputi faktor kandungan air, udara, unsur hara dan penyakit. Apabila salah satu faktor tersebut berada dalam kondisi kurang menguntungkan maka akan mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan tanaman (Bidwell, 1979 dalam Sinulingga dan Sri).
Salinitas
Menurut Lüning (1990) dalam Rukmi et al. (2012), bahwa  Gracilaria dapat tumbuh  pada kisaran salinitas tinggi. Gracilaria  yang berasal dari kisaran geografis yang luas tumbuh dengan baik pada salinitas 15 – 60 g/L akan tetapi pertumbuhan optimal terjadi pada salinitas 30 g/L. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Susanto  et al.  (1996) bahwa pelepasan spora  Gracilaria  sp.  biasa berlangsung pada salinitas 10 sampai dengan 45 g/L.







Tabel 1.1 Kisaran Salinitas rumput laut Gracillaria
(Hoyle, 1975 dalam Sjafrie, 1990)

2.5        Manfaat Rumput Laut Gracillaria verrucosa
Rumput laut Gracillaria verrucosa dapt dimanfaatkan sebagai bahan makanan dan minuman. Selain itu, juga dapat dimanfaatan di bidang farmasi,industri seperti pembutan agar–agar. Menurut Salmi et al. (2012) dalam Sugianto et al.  (2013), rumput laut merupakan sumber pangan yang memiliki kandungan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, asam amino dan mineral tinggi. Kandungan serat dan mineral rumput  laut juga lebih tiggi daripada sebagian besar buah dan sayuran.
Menurut Simanjuntak (1995) dalam Putinella (2001) dalam Hendrajat, et al. (2010), bahwa jenis alga merah seperti Gracillaria sp. banyak digunakan sebagai obat tradisional di Cina. Hasil analisis kimia menujukkan bahwa alga tersebut mengandung senyawa terpenoid, asetogenik maupun senyawa aromatik. Umumnya senyawa yang ditemukan pada alga merah bersifat anti mikroba, anti inflamasi, anti virus dan bersifat fitotaksis.
Rumput laut Gracillaria verrucosa juga mampu merubah energi matahari menjadi bahan organik melalui proses fotosintesis, bahan organik tersebut dimanfaatkan oleh ikan-ikan serta biota-biota yang ada di dalam perairan tersebut. Selain itu rumput laut Gracillaria verrucosa juga dapat digunakan sebagai biofilter yakni menyerap bahan-bahan yang berbahaya bagi biota sehingga air dalam perairan tersebut selalu jernih. Menurut Winarno (1990) dalam Rukmi, et al. (2012), Komunitas ini berperan sebagai tempat pembesaran dan perlindungan bagi jenis-jenis ikan tertentu dan merupakan makanan alami ikan-ikan dan hewan herbivore.



















3.   PENUTUP

3.1     Kesimpulan
       Habitat Gracillaria verrucosa adalah di daerah litoral dan sub litoral, sampai kedalaman tertentu, yang masih dapat dicapai oleh penetrasi cahaya matahari. Beberapa jenis hidup di perairan keruh, dekat muara sungai.
       Ekologi Gracillaria verrucosa  adalah rumput laut  Gracilaria  sp.merupakan tumbuhan yang mempunyai toleransi terhadap perubahan kondisi lingkungan serta dapat tumbuh pada perairan yang tenang. Rumput laut hidup dengan cara menyerap zat makanan dari perairan dan melakukan fotosintesis. Jadi pertumbuhannya membutuhkan faktor-faktor fisika dan kimia perairan seperti  gerakan air, temperatur, kadar garam, nitrat, dan fosfat serta pencahayaan sinar matahari.

3.2     Saran
       Dalam penulisan makalah ini, penulis mempunyai banyak kekurangan sehingga kami mengharapkan penulisan yang lebih baik untuk karya ilmiah selanjutnya. Dan para pembaca khususnya dosen pengajar untuk memberikan bimbingan agar tidak terjadi kesalahan dalam penulisan karya ilmiah selanjutnya.


                                                                                                        





Daftar Pustaka
Hendrajat, Erfan Andi., Brata Pantjara dan Markus Mangampa. 2010. Polikultur Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Dan Rumput Laut (Gracillaria verrucosa). Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur.
Fadilah, Siti., Rosmiati dan Emma Suryanti. 2010. Perbanyakan Rumput Laut (Gracillaria verucosa) Dengan Kultur Jaringan Menggunakan wadah Yang Berbeda. Prosiding Forum Inovasi Teknologi Akuakultur.
Rukmi, Ayuning Smita., Sunaryo dan Ali Djunaedi. 2012. Sistem Budidaya Rumput Laut Gracilaria verrucosa di Pertambakan dengan Perbedaan Waktu Perendaman di Dalam Larutan NPK. Journal of Marine Research. 1 (1): 90-94.
Haryanti, Anik Muji., Sri Darmanti dan Munifatul Izzati. 2008. Kapasitas Penyerapan dan Penyimpanan Air pada Berbagai Ukuran Potongan Rumput Laut Gracilaria verrucosa sebagai Bahan Dasar Pupuk Organik. Bioma. 10 (1): 1-6
Amalia, Dian Rizqi Nur. 2013. Efek Temperatur Terhadap Pertumbuhan Gracilaria verrucosa. Skripsi. Jurusan Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember: Jember.
Kartono., Munifatul Izzati., Sutimin dan Dian Insani. 2008. Analisis Model Dinamik Pertumbuhan Biomassa Rumput Laut Gracillaria Verucosa. Jurnal Matematika. 11(1): 21-24
Alamsjah, Moch. Amin., Nurines Oktavia Ayuningtiaz dan Sri Subekti. 2010. Pengaruh Lama Penyinaran Terhadap Pertumbuhan Dan Klorofil a Gracilaria verrucosa Pada Sistem Budidaya Indoor. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 2(1): 21-28.
Mustofa. 2013. Efek  Spektrum Cahaya Terhadap Pertumbuhan Gracilaria verrucosa. Skripsi. Jurusan Fisika Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember: Jember
Sjafrie, Nurul Dhewani Mirah. 1990. Beberapa Catatan Mengenai Rumput Laut Gracilaria. Oseana. 15 (4): 147-155
Sinulingga, Maranatha dan Sri Darmanti. Kemampuan Mengikat Air oleh Tanah Pasir yang Diperlakukan dengan Tepung Rumput Laut Gracilaria verrucosa. Kemampuan Mengikat Air oleh Tanah Pasir. 32-38
Sugiyatno., Munifatul Izzati dan Erma Prihastanti. 2013. Manajemen Budidaya dan Pengolahan Pasca Panen Gracilaria verrucosa (Hudson) Papenfus. Study Kasus : Tambak Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Buletin Anatomi dan Fisiologi. 21 (2): 42-50